Polres Nabire Lepaskan Juru Bicara KNPB Sorong
pada tanggal
Tuesday, 24 February 2015
KOTA JAYAPURA - Kepolisian Resort Nabire akhirnya melepas YK, aktivis sekaligus Juru Bicara Komite Nasional Papua Barat Sorong yang diamankan tim gabungan TNI-Polri saat menggelar Operasi Premanisme di Pelabuhan Samabusa Teluk Kimi, Nabire, Minggu (15/2) pagi.
Kabid Humas Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Patrige saat dikonfirmasi menyebutkan bahwa pemulangan terhadap YK, setelah pihak Kepolisian Nabire melakukan intrograsi atas kepemilikan dokumen yang mengarah pada disintegrasi bangsa.
Patrige mengakui dari interogasi terhadap YK, dia menyebutkan 14 aktivis KNPB Sorong dan Fak-fak yang turun bersamanya di Pelabuhan Nabire. Paterige juga menampik adanya informasi penahanan terhadap YK maupun 14 aktivis KNPB lainnya.
“YK cuma diinterogasi dan kini telah dipulangkan. Dia tidak ditahan, penuturannya memang dia bersama 14 rekan-rekannya ke Nabire,” terang Patrige.
Ia menjelaskan bahwa KNPB adalah organisasi terlarang yang tidak terdaftar di Kesatuan Bangsa dan PolitikKesbangpol Provinsi maupun Kabupaten. Organisasi ini, beber Petrige, semangatnya bukan untuk mempersatukan bangsa dalam bingkai NKRI, melainkan memecah persatuan bangsa.
“Kalau untuk organisasi terlarang ancamannya pembubaran organisasi, tidak sampai dilakukan penangkapan. Tapi itu sepanjang tidak melakukan tindak pidana, artinya kalau melakukan tindak pidana dalam pasal-pasal makar, tentu saja ditahan,” tegas dia.
Mengenai diamankannya aktivis KNPB Sorong, Patrige beralasan merupakan rangkaian kegiatan Operasi Pramanisme sebagaimana perintah Kapolri kepada seluruh jajaran Polda. Operasi ini sendiri dilaksanakan dengan sasaran senjata tajam dan minuman keras.
Saat dalam pelaksanaan operasi di Pelabuhan Nabire yang menjadi pusat keramaian masyarakat, sambungnya, tim gabungan TNI-Polri menemukan aktivis KNPB dengan membawa artibut yang mengarah pada disintegrasi bangsa. “Pada saat operasi ditemukan aktivis KNPB yang membawa catatan-catatan menuju Papua Merdeka,” ungkap Patrige.
Patrige menambahkan Operasi Premanisme telah dilakukan disejumlah wilayah di Papua sejal 3 minggu lalu. Wilayah yang menjadi sasaran Operasi Premanisme, diantaranya Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Nabire. [PasifiPos]
Kabid Humas Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Patrige saat dikonfirmasi menyebutkan bahwa pemulangan terhadap YK, setelah pihak Kepolisian Nabire melakukan intrograsi atas kepemilikan dokumen yang mengarah pada disintegrasi bangsa.
Patrige mengakui dari interogasi terhadap YK, dia menyebutkan 14 aktivis KNPB Sorong dan Fak-fak yang turun bersamanya di Pelabuhan Nabire. Paterige juga menampik adanya informasi penahanan terhadap YK maupun 14 aktivis KNPB lainnya.
“YK cuma diinterogasi dan kini telah dipulangkan. Dia tidak ditahan, penuturannya memang dia bersama 14 rekan-rekannya ke Nabire,” terang Patrige.
Ia menjelaskan bahwa KNPB adalah organisasi terlarang yang tidak terdaftar di Kesatuan Bangsa dan PolitikKesbangpol Provinsi maupun Kabupaten. Organisasi ini, beber Petrige, semangatnya bukan untuk mempersatukan bangsa dalam bingkai NKRI, melainkan memecah persatuan bangsa.
“Kalau untuk organisasi terlarang ancamannya pembubaran organisasi, tidak sampai dilakukan penangkapan. Tapi itu sepanjang tidak melakukan tindak pidana, artinya kalau melakukan tindak pidana dalam pasal-pasal makar, tentu saja ditahan,” tegas dia.
Mengenai diamankannya aktivis KNPB Sorong, Patrige beralasan merupakan rangkaian kegiatan Operasi Pramanisme sebagaimana perintah Kapolri kepada seluruh jajaran Polda. Operasi ini sendiri dilaksanakan dengan sasaran senjata tajam dan minuman keras.
Saat dalam pelaksanaan operasi di Pelabuhan Nabire yang menjadi pusat keramaian masyarakat, sambungnya, tim gabungan TNI-Polri menemukan aktivis KNPB dengan membawa artibut yang mengarah pada disintegrasi bangsa. “Pada saat operasi ditemukan aktivis KNPB yang membawa catatan-catatan menuju Papua Merdeka,” ungkap Patrige.
Patrige menambahkan Operasi Premanisme telah dilakukan disejumlah wilayah di Papua sejal 3 minggu lalu. Wilayah yang menjadi sasaran Operasi Premanisme, diantaranya Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Nabire. [PasifiPos]